Memasyarakatkan kebodohan dan membodohi masyarakat

7 04 2008

Masih ingat benar dikepala kita semua akan slogan di dekade 80an yang mirip dgn judul diatas yaitu ‘memasyarakatkan olahraga dan mengolahragakan masyarakat’. Dimana saat itu, olahraga benar-benar telah menjadi falsafat hidup di hampir semua lapisan masyarakat, dr tingkat pusat hingga pedesaan terutama olahraga bulutangkis n sepakbola.

Fenomena yg samapun sedang terjadi saat ini tetapi dgn bentuk yg berbeda yaitu melalui dunia media televisi terutama lewat program sinetron.

Sinetron-sinetron yg beredar saat ini terutama di stasiun televisi papan atas dan di waktu2 ‘primetime’ benar2 saat ini sedang mengalami proses yg bisa kita katakan ‘membodohi masyarakat’ dan lebih parahnya bisa dikatakan memperkosa akal logika setiap org yg menyaksikan baik dr sisi alur cerita maupun setiap tindakan yg diperlihatkan dalam setiap adegan.

Generasi kita dan lebih parahnya generasi anak2 kita saat ini benar2 sedang diajar bagaimana hidup dalam kepura2an, keegoisan, keputusasan, kebodohan yg secara terang2an mengorbankan akal sehatnya mereka lewat dunia media.

Coba aja kita saksikan sinetron semacam ‘cahaya’, ‘namaku mentari’, ‘hingga akhir waktu’. Atas nama rasa penasaran yg telah tertanam dr awal episode, kita akan merasakan sepertinya ‘dipaksa’ utk menerima dan mengikuti ketidakmasukakalan dr semua cerita yg disodorkan.

Lebih menyedihkan sekali adalah sinetron2 semacam itu, yg menawarkan cerita konyol tsb, selalu memiliki rating yg tinggi yg artinya sangat diminati pemirsa. Dgn kata lain adalah sebenarnya pemirsa sendiri mendorong kebodohan itu tetap diminati.

Sering kali memang di dalam dunia hiburan, pertimbangan bisnis menjadi nomor satu meski harus mengorbankan akal sehat dari sudut manapun. Jam-jam tayang utama yang mestinya menjadi slot yang sangat ideal untuk mengimpartasi masyarakat terutama generasi2 muda dengan nilai2 yang membangun, rupanya malah menjadi jam2 mengerikan yang harus dihindari oleh anak2 kita dan kita semua.

Memang tidak semua sinetron itu jelek, sebut saja sinetron/sandiwara ACI (aku cinta Indonesia), Rumah Masa Depan (RMD), Keluarga Cemara (KC) adalah contoh dari segelintir sinetron yang menjadi sebuah tayangan bermutu dan menebar impartasi nilai2 yang membangun khususnya nilai2 sosial kemasyarakatan dan kekeluargaan. Mereka tidak pernah menjual mimpi-mimpi belaka dengan menebar semangat pesimistis, pemikiran yang irasional, keegoisan hanya demi angka-angka yang disebut rating. Terbukti mereka malah memiliki ‘rating’ yang jauh lebih besar dan jauh lebih terhormat.

Jujur, kami semua sangat merindukan tayangan-tayangan yang bermutu yang ditayangkan di jam-jam utama, semata-mata bukan hanya karena agar logika kami tetap sehat, melainkan juga anak-anak kami tetap menjadi anak-anak sehat jiwanya, ‘waras’ pemikirannya dan baik nuraninya.

Masih adakah orang-orang ‘sehat hatinya’ di sana yang memikirkan hal ini dan bukan hanya demi apa yang disebut ‘setan rating’ sehingga rela menjual masa depan generasi kita.

The only thing necessary for the triumph of evil is for good men to do nothing.
Edmund Burke  – Tears of the Sun


Actions

Information

Leave a comment

You must be logged in to post a comment.