Faith of The Heart

8 04 2008

faith of The Heart

written by Diane Warren and sung by Russell Watson

It’s been a long road
Getting from there to here
It’s been a long time
But my time is finally near
And I will see my dream come alive at last,
I will touch the sky
And they’re not gonna hold me down no more
No, they’re not gonna change my mind
Cause I got faith of the heart
I’m going where my heart will take me
I got faith to believe
I can do anything
I got strength of the soul
And no one’s gonna bend or break me
I can reach any star
I got faith
Faith of the heart…

(http://scifi.myrealm.co.uk/st_ent3.htm)

Pertama kali mendengar lagu itu, yang terpikir saat itu adalah iramanya yang enak didengar tanpa memperhatikan dengan seksama lirik dari lagu tersebut. Tak berapa lama kemudian, aku mulai tertarik dengan isi lirik tersebut dan dengan sedikit ilmu googling (maaf jangan sebut saya PAKAR internet yah hanya karena bisa menemukan lirik asli lagu ini di internet), aku mencoba mencari-cari lirik lagu tersebut di internet hanya dengan mengetikan frasa ‘enterprise theme song’ (ini memang theme song-nya serial TV enterprise) dan dalam hitungan detik, akhirnya aku dapatkan lirik enterprise beserta url address dari mp3 lagu tersebut. faith of The Heart

Coba kita dalami lirik di lagu di atas, benar-benar sebuah untaian lirik yang sanggup membangkitkan semangat dalam diri kita.

Sejujurnya, banyak hal ketika aku mulai kehilangan fokus atas apa yang sedang aku rencanakan dan lakukan dalam periode tertentu dalam hidupku, baik dalam kehidupan pribadi maupun dunia pekerjaan, aku selalu belajar untuk kembali membangkitkan apa yang sering aku sebut ‘rasa penasaranku’ yang sanggup membangunkan kembali ‘faith of the heart’ku untuk mencapai tujuan yang sudah aku tetapkan dengan segala daya upaya. Semangat ini pulalah yang sering membuat aku mampu untuk melompat lebih tinggi dari ukuran kemampuan yang aku pikir mampu aku lakukan.

Orientasi goal dalam sebuah proses pencapaian tujuan akan selalu membuat kita tetap fokus dan konsisten dengan apa yang sudah dan sedang kita kerjakan tanpa pernah kita meninggalkan saat-saat dimana kita belajar menjalani dan menikmati proses yang terjadi di dalamnya.

Mari kita belajar untuk selalu menjadi yang terbaik dalam setiap momen dalam kehidupan kita, marilah kita mencapai tujuan-tujuan dalam hidup kita dengan lebih bersemangat, marilah kita bangkit kembali dari kegagalan masa lalu dengan jiwa seorang pemenang dan bukan seorang pecundang yang selalu bergelut dengan ketakutan yang ada dibelakang kita tetapi dengan memegang buaian impian yang ada di depan.

Kita harus berani melepaskan yang ada di belakang kita untuk mencapai apa yang ada di depan kita karena seorang pemenang bukanlah seorang yang tidak pernah gagal, tetapi seorang pemenang adalah seorang yang berani menerima kegagalannya untuk melompat jauh lebih tinggi dari apa yang dia pikir mampu lakukan.

Pecundang adalah ‘pemenang’ sesaat yang tidak pernah mau menyelesaikan pertarungan yang telah dia hadapi, disebut pemenang karena dia telah memutuskan untuk memasuki area pertandingan itu, tetapi dia tidak pernah mau menjalaninya sampai akhir dan bahkan memilih untuk mundur dengan manisnya.

Dan untuk menjadi pemenang sejati kita harus belajar mendapatkan apa yang disebut keteguhan hati (faith of the heart) untuk dapat melihat apa yang tidak terlihat di depan sana sebagai tujuan yang harus kita capai.

And I will see my dream come alive at last,

(enterprise theme song)





Memasyarakatkan kebodohan dan membodohi masyarakat

7 04 2008

Masih ingat benar dikepala kita semua akan slogan di dekade 80an yang mirip dgn judul diatas yaitu ‘memasyarakatkan olahraga dan mengolahragakan masyarakat’. Dimana saat itu, olahraga benar-benar telah menjadi falsafat hidup di hampir semua lapisan masyarakat, dr tingkat pusat hingga pedesaan terutama olahraga bulutangkis n sepakbola.

Fenomena yg samapun sedang terjadi saat ini tetapi dgn bentuk yg berbeda yaitu melalui dunia media televisi terutama lewat program sinetron.

Sinetron-sinetron yg beredar saat ini terutama di stasiun televisi papan atas dan di waktu2 ‘primetime’ benar2 saat ini sedang mengalami proses yg bisa kita katakan ‘membodohi masyarakat’ dan lebih parahnya bisa dikatakan memperkosa akal logika setiap org yg menyaksikan baik dr sisi alur cerita maupun setiap tindakan yg diperlihatkan dalam setiap adegan.

Generasi kita dan lebih parahnya generasi anak2 kita saat ini benar2 sedang diajar bagaimana hidup dalam kepura2an, keegoisan, keputusasan, kebodohan yg secara terang2an mengorbankan akal sehatnya mereka lewat dunia media.

Coba aja kita saksikan sinetron semacam ‘cahaya’, ‘namaku mentari’, ‘hingga akhir waktu’. Atas nama rasa penasaran yg telah tertanam dr awal episode, kita akan merasakan sepertinya ‘dipaksa’ utk menerima dan mengikuti ketidakmasukakalan dr semua cerita yg disodorkan.

Lebih menyedihkan sekali adalah sinetron2 semacam itu, yg menawarkan cerita konyol tsb, selalu memiliki rating yg tinggi yg artinya sangat diminati pemirsa. Dgn kata lain adalah sebenarnya pemirsa sendiri mendorong kebodohan itu tetap diminati.

Sering kali memang di dalam dunia hiburan, pertimbangan bisnis menjadi nomor satu meski harus mengorbankan akal sehat dari sudut manapun. Jam-jam tayang utama yang mestinya menjadi slot yang sangat ideal untuk mengimpartasi masyarakat terutama generasi2 muda dengan nilai2 yang membangun, rupanya malah menjadi jam2 mengerikan yang harus dihindari oleh anak2 kita dan kita semua.

Memang tidak semua sinetron itu jelek, sebut saja sinetron/sandiwara ACI (aku cinta Indonesia), Rumah Masa Depan (RMD), Keluarga Cemara (KC) adalah contoh dari segelintir sinetron yang menjadi sebuah tayangan bermutu dan menebar impartasi nilai2 yang membangun khususnya nilai2 sosial kemasyarakatan dan kekeluargaan. Mereka tidak pernah menjual mimpi-mimpi belaka dengan menebar semangat pesimistis, pemikiran yang irasional, keegoisan hanya demi angka-angka yang disebut rating. Terbukti mereka malah memiliki ‘rating’ yang jauh lebih besar dan jauh lebih terhormat.

Jujur, kami semua sangat merindukan tayangan-tayangan yang bermutu yang ditayangkan di jam-jam utama, semata-mata bukan hanya karena agar logika kami tetap sehat, melainkan juga anak-anak kami tetap menjadi anak-anak sehat jiwanya, ‘waras’ pemikirannya dan baik nuraninya.

Masih adakah orang-orang ‘sehat hatinya’ di sana yang memikirkan hal ini dan bukan hanya demi apa yang disebut ‘setan rating’ sehingga rela menjual masa depan generasi kita.

The only thing necessary for the triumph of evil is for good men to do nothing.
Edmund Burke  – Tears of the Sun